http://www.english.hadhramaut.info Dimanakah Kebahagiaan Itu? [The Source: indo.hadhramaut.info - 26/3/2009]
Kebahagiaan merupakan sorga impian yang diidam-idamkan oleh setiap manusia, mulai dari seorang filsafat terkemuka yang sampai pada pemikiran tertinggi sampai orang biasa yang berada pada tingkat kebodohan terendah, mulai dari seorang raja di istananya yang megah sampai seorang rakyat jelata dalam gubuk kecilnya. Tiada manusia yang rela dirinya berada pada tepi kesedihan.

Orang tua rela memeras keringat mencari uang adalah demi mencari kebahagiaan dalam keluarganya, petani rela berpanas-panasan untuk mencangkul diterik matahari adalah demi mendapatkan kebahagiaan, orang mencari pasangan hidup dan memilih yang sesuai dengan hatinya adalah demi kebahagiaan, seseorang mencari ilmu bertahun-tahun adalah demi kebahagiaan. Tidak seorangpun di dunia ini yang bersusah payah mencari kesedihan. Akan tetapi so'al yang telah membingungkan manusia sejak dulu adalah dimanakah kebahagiaan itu?
        
Banyak orang yang telah mencarinya pada bukan tempatnya, sehingga merekapun seperti orang yang mencari mutiara di tengah padang pasir yang kembali dengan tangan kosong. Padahal dia telah bersusah payah mencarinya dengan berbagai pengorbanan. Jiwanyapun menjadi terpecah-belah dan kehilangan harapan yang dulu bagaikan gunung.

Manusia telah mencoba mencarinya diberbagai warna kesenangan materi, sekelompok syahwat dunia yang terlihat mata, akan tetapi merekapun tidak dapat mewujudkan kebahagiaan itu. Bahkan mungkin sesuatu yang baru tersebut malah menambah kesedihan dan kecemasan baru lagi.

Apakah kebahagiaan terdapat pada kesenangan harta benda?

Sebagian orang telah menyangka hal tersebut, kemudian merekapun menyangka bahwa kebahagiaan itu terletak pada kekayaan materi, dalam kehidupan yang sangat mewah, kesenangan yang tidak terbatas, serta kehidupan yang penuh dengan hura-hura, akan tetapi sebuah negara yang tingkat perekonomiannya melambung tinggi, serta telah mencukupi kebutuhan hidup penghuninya dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, serta kendara'an dan dilengkapi dengan berbagai macam perlengkapan tambahan, masih saja mengadu akan kesengsaraan dalam hidup mereka, dan masih merasa sempit dan cemas sehingga merekapun mencari jalan lain untuk mencari kebahagiaan.

Dalam sebuah majalah di Swedia, ada sebuah artikel yang berjudul "Penghuni sorga bukanlah orang-orang yang berbahagia". Yang dimaksud dengan penghuni sorga disini adalah penduduk Swedia yang hidup dalam tingkat perekonomian mirip dengan dunia mimpi. Dalam kehidupan mereka hampir tidak ada rasa takut akan jatuh miskin atau menjadi tua atau mengalami gangguan kehidupan lainnya, karena pemerintah mereka telah menjamin bantuan bulanan yang sangat besar pada setiap penduduk yang tertimpa salah satu dari gangguan di atas, sehingga membuat penduduk tidak berani untuk mengadu tentang berbagai kekurangan atau kebutuhan ekonomi di setiap waktu.

Dalam artikel tersebut dikatakan: "Setiap penduduk Swedia berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, bantuan bagi orang yang sakit, bantuan melambungnya bahan makanan, bantuan tempat tinggal, bantuan bagi tuna wisma, kebutuhan keuangan, berobat gratis di berbagai rumah sakit, dan lain sebagainya.

Bantuan ibu dibayarkan kepada setiap wanita, bantuan ini mencakup kebutuhan melahirkan, perawatan medis di rumah sakit serta bantuan tambahan bagi setiap bayi lahir.

Negara menyumbangkan bantuan masyarakat untuk  anak-anak yang hampir tidak masuk akal. Diantaranya bantuan berupa uang yang jumlahnya hampir 500$ disetiap tahun bagi setiap anak hingga berumur enam belas tahun. Perawatan kesehatan gratis, biaya transportasi untuk berlibur gratis bagi setiap anak hingga berumur empat belas tahun. SPP sekolah sangatlah rendah untuk membantu perawatan anak sebelum usia sekolah setiap hari.

Pendidikan di semua tingkat gratis disertai sumbangan seragam, serta bantuan hidup bagi yang tidak mampu, serta memberikan beasisiwa bagi anak pintar hingga mencapai 1000$..."

Meskipun kehidupan mereka begitu makmur dan tentram, akan tetapi seorang reporter di negara itu telah menyebutkan bahwa mereka hidup dalam keadaan bimbang, stres penuh dengan kebingungan dan kesedihan, putus asa dan lain sebagainya. Akibat dari keadaan ini merekapun melarikan diri dari kehidupan yang menyialkan dan menyakitkan ini dengan jalan bunuh diri, yang telah dilakukan oleh beribu-ribu penduduk negara ini, agar terbebas dari siksaan batin.

Penulis artikel ini mengakhiri tulisannya dengan mengatakan bahwa rahasia dari semua itu adalah hilangnya keimanan.

Kita lihat juga Amerika adalah negara terkaya di dunia, akan tetapi dia belum berhasil mewujudkan kebahagiaan bagi penduduknya, padahal dia telah mempunyai pesawat luncur,  satelit luar angkasa hingga dapat berekreasi di bulan, timbunan emas yang mereka miliki bersumber dari atas maupun dari bawah telapak kaki mereka. Kita lihat sebagian pemikir dari mereka mengatakan: "Kehidupan di New York merupakan sebuah tudung indah bagi keada'an sebenarnya dari berbagai kesedihan dan keputus asaan di dalamnya".

Banyaknya harta bukanlah sebuah kebahagiaan, juga bukan unsur pertama agar mendapatkannya, akan tetapi banyaknya harta merupakan cobaan bagi manusia di dunia sebelum di akherat, maka dari itu Allah SWT berfirman:

  [/55]

"Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia...".Qs.At-Taubah:55.
 
Yang dimaksud dengan adzab disini adalah kepayahan, kelelahan, sakit, kesedihan, penyakit dll. Ini adalah merupakan siksaan duniawi yang berada saat ini, sebagaimana diterangkan dalam sebuah Hadist:

 (( ))     - ( 6 / 319)

"Perjalanan adalah sepotong dari pada siksa'an".HR Bukhari

 Ini adalah apa yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri pada setiap orang yang dijadikan harta serta dunia sebagai tujuan utamanya, puncak pengetahuannya serta akhir dari keinginannya, niscaya dia akan selalu merasakan siksaan dalam jiwanya, hatinya akan merasa lelah, sedikit harta masih tidak cukup, harta yang banyak tidak membuatnya kenyang.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

(( )).  - ( 9 / 5)

"Barang siapa akherat adalah tujuannya maka Allah SWT menjadikan kekayaannya dihatinya dan menyatukan keinginannya dan duniapun datang kepadanya sedangkan dia dalam keada'an berpaling darinya. Dan barang siapa dunia adalah tujuannya maka Allah SWT menjadikan kefakirannya pada kedua matanya, dan akan memecah tujuannya, dan tidak akan datang kepadanya dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya".HR At-Tirmidzi.

Sebagian dari siksa'an yang paling pedih di dunia adalah terpecah belahnya hati, dan dijadikannya kemiskinan sebagai hal yang melelahkan kedua matanya, jika saja bukan karena maboknya orang-orang yang terlalu cinta pada dunia, niscaya mereka akan meminta pertolongan dari siksaan ini...diantara siksaan dunia juga adalah tersiksanya hati dan jiwa seseorang karena mengemban permainan dunia serta memerangi penduduknya, serta sangat membenci orang yang memusuhi mereka seperti apa yang telah dikatakan ulama' shaleh: "Barang siapa telah mencintai dunia maka hendaklah dia menetapkan jiwanya dengan menerima musibah yang ada".

Sedangkan orang yang mencintai dunia tidak keluar dari tiga hal: keinginan yang harus tercapai, kelelahan yang terus menerus, serta keluhan yang tidak habis. Itu karena orang yang cinta dunia tidak akan mendapatkan sesuatu, kecuali hanya akan mendorong dirinya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu seperti yang telah dikatakan dalam sebuah hadist:

(( )). - ( 8 / 329)

"Seandainya Ibnu Adam mempunyai dua wadi dari emas, niscaya dia akan mengharapkan mempunyai tiga".HR At-Tirmidzi
 
 Nabi Isa ibnu Maryam telah mencontohkan orang yang cinta dunia dengan orang yang minum arak, semakin banyak dia minum semakin bertambah haus.

Apakah kebahagiaan itu ada pada anak keturunan?

Memang benar bahwa anak adalah sebuah bunga kehidupan serta hiasan dunia. Akan tetapi betapa banyak anak yang membalas dengan kedurhakaan serta kekufuran, sebagai ganti berbuat baik serta patuh pada mereka. Betapa banyak orang tua yang telah merasakan diculik oleh anak mereka sendiri demi mendapatkan harta benda yang mereka miliki.

Betapa banyak gambaran yang telah kita saksikan dalam kehidupan ini dari berbagai macam cerita, mulai dari  durhakanya seorang anak kepada orang tua, kelelahan dan keputus asaan orang tua karena anak, dan lain sebagainya. hal ini menjadikan orang tua selalu waspada dalam mendidik mereka untuk mencegah kedurhakaan anak.

Jika saja kebahagiaan ada pada anak kita, maka bagaimana dengan orang-orang yang tidak mempunyai anak? Apakah kita hukumi dengan kesengsara'an dalam hidup mereka begitu saja?

Sesungguhnya kebahagiaan itu ada pada diri manusia.

Jadi kebahagiaan bukanlah ada pada banyaknya harta, bukan pada banyaknya anak, bukan pula tercapainya keinginan, bukan pula pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kebahagiaan adalah suatu hal maknawi yang tak terlihat oleh mata, tidak dapat diukur dengan kata "berapa?", tidak dapat dibeli dengan Rupiyah, atau Dolar Amerika atau Reyal Saudi.  
      
Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh manusia yang ada diantara dua sayapnya... jiwa yang suci, hati yang tenang, dada yang lapang, serta hati yang bersih.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang terpancar dari dalam diri seseorang, dan tidak didatangkan dari luar diri mereka.
 
Ada seorang suami marah kepada istri, kemudian dia berkata kepada istrinya sembari bersumpah: "Demi Allah, aku akan membuatmu celaka!!!".
 
Kemudian istrinyapun menjawab dengan tenang: "Kamu tidak akan dapat membuatku celaka, sebagaimana kamu tidak mampu membuatku bahagia".

Kemudian suami berkata: "Mengapa aku tidak dapat mencelakakanmu?".

Istrinya menjawab dengan santainya: "Jika saja kebahagiaan ada pada gaji, niscaya engkau akan memotong gajiku, atau pada perhiasan, niscaya engkau akan melarangku untuk memakainya, akan tetapi kebahagiaan itu adalah suatu yang tidak engkau miliki tidak juga semua orang di dunia ini!".

Suaminya berkata dengan penuh penasaran:  "Lalu apa itu?".

Istri menjawab dengan penuh keyakinan: "Aku menemukan kebahagiaanku dalam imanku, sedangkan imanku ada dalam hatiku, dan hatiku tidak ada satupun yang dapat menguasainya kecuali tuhanku!".

Inilah kebahagiaan yang sebenarnya, yang tiada seorangpun diantara manusia dapat memberikannya, dan tidak seorangpun dapat mencabutnya dari orang yang telah diberi kebahagiaan, kebahagiaan yang dirasakan oleh sebagian orang saleh dan membuatnya berkata: "Sesungguhnya kita merasakan sebuah kebahagiaan, yang seandainya para raja mengetahuinya, niscaya mereka akan melempari kita dengan pedang oleh karenanya".

Kadar materi yang harus dilakukan dalam mencapai kebahagiaan

Kita tidak bisa mengingkari bahwa segi materi mempunyai peran dalam mencapai kebahagiaan, bagaimana? Rasulullah SAW telah bersabda:

(( )) - ( 3 / 378)

"Diantara kebahagiaan anak Adam adalah wanita shalehah, tempat tinggal yang bagus, serta kendara'an yang bagus".

Meskipun ini bukanlah peran pertama dan paling penting dalam mencapai kebahagiaan, dan kadarnya adalah dari segi kualitas bukan dari segi kuantitas, akan tetapi kadar ini termasuk dalam kata gori penting. Dengan kadar ini sudahlah sangat cukup bagi manusia untuk menyelamatkan dirinya dari keinginan-keinginan materi yang membuat hatinya menjadi sempit, seperti: wanita yang bejat, tempat tinggal jelek, kendara'an yang jelek. Seperti telah mendapatkan karunia berupa keamanan, serta kesehatan, serta dimudahkan baginya bahan pokok dengan tanpa susah payah. Betapa indahnya sebuah hadist nabi:   

 (( )) - ( 8 / 344(

"Barang siapa diantara kamu ketika menjelang pagi, sedangkan rumahnya dalam keadaan aman, badannya dalam keada'an sehat, serta memiliki makanan untuk hari ini, maka seakan-akan dia telah mendapatkan semua kesenangan dunia".

Jika saja kebahagiaan adalah bagaikan sebuah pohon yang akarnya adalah diri manusia dan hatinya, maka iman kepada Allah SWT dan hari akhir adalah air dan pupuknya, serta udara dan cahayanya.