http://www.english.hadhramaut.info Jadikan Lemon Masam Menjadi Manis Menyegarkan [The Source: indo.hadhramaut.info - 26/3/2009]
Coba'an bukanlah hal yang dianggap aneh bagi makhluk yang hidup di dunia yang bagaikan meneguk air di waktu dahaga ini.

Allah SWT telah menjadikan hubungan antara manusia dengan dunia ini sebagai hubungan imtihan (ujian) dan ibtila' (coba'an). Dengan ujian dan coba'an ini kehidupan manusia menjadi lebih bermakna, dengan ujian dan coba'an ini manusia dapat diketahui kadar kesabarannya, dan dengan coba'an inilah Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang sabar ketika menjalani kehidupannya di dunia yang penuh dengan hayalan ini.

Tidak diragukan lagi bahwa sifat sabar adalah perbuatan yang dianjurkan oleh syare'at. Akan tetapi sabar mempunyai arti atau makna bermacam-macam. Kebanyakan ulama mengartikan sabar dengan: "Menahan jiwa dari segala hal yang tidak disukai". Ini adalah arti yang sangat bagus, akan tetapi menahan jiwa dari semua hal yang tidak disukai, jika ditafsirkan dengan: selalu menerima kepahitan dalam kenyata'an ini dan selalu merasakan sakitnya kekejian dalam kenyata'an, bisa berakhir dengan keada'an jelek seperti kesedihan dan kebodohan atau minder.

Bahkan mungkin kesabarannya akan terkalahkan oleh hawa nafsu setelah dirinya membanding-bandingkan antara coba'an yang tidak dia sukai ini dengan apa yang dia cintai dan dia inginkan, ini adalah akhir dari sakitnya coba'an yang dia rasakan, sehingga ketika dia tersesat dalam kegelapan coba'an ini, dia tidak ingin mencari cahaya yang dapat menolong dirinya, atau mencari seorang penolong yang dapat menyelamatkan dirinya.

Agama islam dalam hal ini berperan sebagai perubah kesabaran menjadi ridha (kerela'an) akan
tetapi selama masih dalam garis yang dibolehkan, nafsu manusia tidak akan mencoba dinginnya
ridha jika syare'at mengeluarkan perintah yang beku, atau mewajibkan suatu hal yang sulit, tidak mungkin...! Karena dalam suatu perintah membutuhkan dua hal penting, pertama: kelembutan dengan jiwa, kedua: dapat meluluhkan hati yang diperintah, jika tidak ada dua hal ini maka tiada guna kita mengatakan: "Aku telah ridha", sedangkan diri kita masih kelihatan susah.

Hal pertama ynag dianjurkan oleh agama islam ketika datang coba'an ini adalah dengan menghadapkan perasa'an kita ke arah cobaan yang terjadi. Kita coba lihat kembali coba'an yang menerpa kita.

Siapa tahu? Mungkin dalam kesusahan  ini terdapat manfa'at, siapa tahu juga badan yang sehat
dan selamat dari berbagai penyakit akan tetapi membahayakan dirinya di suatu hari, siapa tahu coba'an akan menjadi anugrah?

Siapa yang tahu? Dalam kelelahan dalam coba'an yang kita alami di dunia ini adalah sebuah pintu menuju kebaikan yang tidak disangka-sangka, maka jika saja kita menjalaninya dengan penuh dengan kesabaran dan ridha niscaya kita akan bebas menikmati masa depan yang lebih baik.        

(( (216))) [/216]

"Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui"
. Qs Al-Baqarah:216

Kebanyakan diantara kita telah tenggelam oleh keada'an sekitar kita, kadang-kadang kekurangan, atau krisis dan diharamkannya sebagian nikmat dalam hidup kita berlipat-lipat ganda, tahukah anda bahwa kelelahan dan coba'an dalam hidup ini adalah bagaikan sebuah debu dimana darinyalah terlahir biji-biji kejantanan. Tidaklah terlahir keahlian orang-orang mulia kecuali ditengah setumpuk kelelahan dan pengorbanan.

Dalam hal ini "Deel Karnejy" mengatakan: "Setiap bertambahnya semangatku dalam mempelajari pekerja'an beratku yang telah dilaksanakan sebagian orang-orang pintar aku bertambah percaya bahwa semua pekerja'an ini tidaklah sempurna kecuali karena hasil dari merasa selalu kurang; perasa'an inilah yang telah memberi semangat kepada mereka sehingga mereka dapat melaksanakan pekerja'an-pekerja'an berat dan memperoleh buah hasilnya. Memang benar, mungkin saja seorang penya'ir bernama "Mylthon" tidak akan membuat puisi indahnya itu tersohor, kalau bukan karena kebuta'annya, "Beet Hoven" tidak akan membuat permainan musiknya menjadi terkenal, kalau bukan karena kebisuannya".

Orang-orang yang telah tertimpa coba'an ini tidak membuat coba'an yang mrnimpa mereka sebagai suatu hal yang menghalangi dirinya untuk maju kedepan, sehingga membuat mereka terjatuh dihadapan coba'an-coba'an ini dengan penuh kesedihan. Mereka juga tidak membiarkan mulut mereka menelan pahitnya kenyata'an yang menimpa mereka dari berbagai ujian.

Akan tetapi mereka berhasil menerima kenyata'an yang harus mereka alami, kemudian merekapun menyerahkan beban berat tersebut kepada keahlian yang mereka miliki sehingga dapat merubah coba'an dan ujian mereka menjadi sebuah anugrah yang besar, serta merubah kekeruhan dan debu-debu kotor menjadi sebuah mawar indah dan bunga yang harum mewangi.

Inilah kuncinya keberhasilan, atau inilah yang dinamakan dengan mejadikan lemon masam menjadi sebuah minuman manis menyegarkan, sebagaimana dikatakan oleh "Deel Karnejy". atau sebagaimana yang telah dinukilnya dari "Emerson" dalam kitabnya yang berjudul "Kemampuan untuk melaksanakan". Dimana dia bertanya-tanya: "Dari manakah datangnya pikiran yang mengatakan: sesungguhnya kehidupan sejah tera dan penuh dengan ketenangan yang terbebas dari kesulitan dan coba'anlah yang menciptakan orang-orang paling bahagia dan tersohor?bukan, akan tetapi sebaliknya. Orang yang terbiasa dengan kesulitan dan coba'an akan terus merasa dalam kesulitan dan coba'an, meskipun mereka telah tidur di atas kain sutera. Sejarah membuktikan bahwa sukses dan kebahagiaan telah menyerahkan kendalinya kepada orang-orang dari berbagai lingkungan yang berbeda-beda; lingkungan dimana disitu terdapat orang-orang baikdan juga orang-orang jahat; disitu juga tidak dapat  dibedakan siapa diantara mereka yang baik dan mana yang jelek. Pada lingkungan inilah tumbuhnya orang-orang sukses yang mampu mengemban tanggung jawab di atas pundak mereka, dan tidak meninggalkan tanggung jawab tersebut di belakang punggung mereka.

Akan tetapi tidak semua manusia diberi kemampuan untuk merubah bagian dirinya yang tidak menyenangkan menjadi harapan yang menyenangkan dirinya yang juga berharga, karena penggemar kekejian dan kedengkian serta pecandu keluhan adalah orang yang paling tidak berhasil dalam menyelipkan arti kebahagiaan dalam hidup mereka, atau dengan ibarat lain, jika mereka belum mendapatkannya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Akan tetapi lain dengan orang-orang penggemar kebaikan, mereka menerima bagian dari kehidupan mereka dengan penuh lapang dada dan apa adanya sebelum mereka tertimpa hal yang tidak mereka inginkan.

Sebagaimana tubuh kita mengeluarkan zat tertentu untuk melawan penyakit dan  kuman-kuman yang menyerang tubuh kita, orang-orang tersebut juga memengeluarkan makna-makna khusus yang bercampur dengan keada'an hidup dan kelelahannya, kemudian memberikannya tempat dan alamat baru. Dengarkanlah perkataan Ibnu Taimiah ketika dia berkata : "Sesungguhnya penjaraku ini adalah sebagai pertapaan, pengasinganku ini adalah sebuah liburan, dan membunuhku adalah sebuah syahadah (mati syahid)...!"

Coba'an-coba'an ini menurut orang berakal tinggi akan berubah menjadi beberapa kenikmatan
yang akan dia terima dengan penuh senyum indah, tidak dengan rasa takut.

Dari dulu telah dikenal bahwa cita-cita orang berlainan, sesui dengan kemampuan seseorang dalam memanfa'atkan kesulitan yang menerpanya, serta mengambil untung dari keada'an yang tidak menyenangkan; atau bisa dikatakan: "Yang paling penting dalam kehidupan kita ini bukanlah mendapatkan pekerjaan yang membuahkan hasil, karena orang dungupun dapat melakukannya, akan tetapi suatu yang paling penting dalam kehidupan kita ini adalah merubah kerugian yang telah menimpa kita menjadi sebuah keuntungan, hal ini membutuhkan kepintaran
dan kejelian, dari sinilah bisa dibedakan antara orang yang berharga dan orang yang tidak berharga".
 
Ini adalah betul-betul kebenaran, lihatlah beberapa contoh dari merubah kerugian menjadi sebuah keuntungan di bawah ini:

Ketika Abdullah Bin Abbas kehilangan kedua matanya, dan dia telah tahu bahwa dia akan menjalani sisa-sisa hisupnya dengan kebutaan, terpenjara dibelakang sel kebutaan tanpa melihat makhluk hidup dan kehidupan nyata ini. Dia tidak membiarkan dirinya mengeluh dengan bagian yang telah dia terima dan coba'an ang telah menimpanya, akan tetapi dia menerima bagian yang harus dia ambil itu, kemudian diapun menambahkan dalam kehidupannya suatu yang dapat meringankan korban dari coba'an  dan dapat menghadirkan kerelaan atau Ridha, kemudian dia berkata:

Jika Allah telah mengambil cahaya pada kedua mataku
Maka pada lisan dan pendengaranku masih ada cahaya
Hatiku cerdas, dan akalku tidaklah lemah
Dalam lisanku tajam bagaikan pedang

Tidak diragukan lagi bahwa menerima kepahitan dan kelelahan dalam hidup dengan hati yang penuh optimis seperti ini, dengan kekuatan untuk mengulang kembali dalam kehidupan selanjutnya, berusaha untuk mengalahkan kesulitan-kesulitan yang menerpa adalah lebih baik dan lebih berharga dari pada memperdalam rasa keputus asa'an dan mundur dari kenyataan yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang.