http://www.english.hadhramaut.info Islam Liberal, Menciptakan Kontradiksi ış şAtas Nama Menghargai Pebedaan [The Source: indo.hadhramaut.info - 27/9/2010]
Indonesia adalah negara yang terkenal dengan kemajmukannya. Kemajemukan inilah ıyang menjadi bagian kekayaan bangsa indonesia.


Di antaranya adalah kemajmukan ıberagama dan berkeyakinan. Kita sebagai warga negara memang dituntut untuk  dapat ımenghargai perbedaan tersebut. Akan tetapi, untuk menghargai sebuah perbedaan kita ıtidak harus membenarakan semua perbedaan yang ada, jika hal itu memang ıbertentangan dengan standar (mi'yar) keyakinan yang kita miliki. Dan adapun untuk ımenghargai perbedaan tersebut adalah tak lebih hanyalah bagaimana sikap kita ketika  ımenyikapi perbedaan tersebut, yaitu dengan sikap bijaksana, bukan dengan merubah ıapa yang ada di dada kita. Karena sebuah keyakinan adalah ibarat sebuah takaran, ıyang apabila dilihat dari sisi hubungannya dengan yang lain maka memiliki dua ıfungsi. Pertama, fungsi  ke dalam adalah untuk menjadi identitas bagi keyakinan itu ısendiri. Dan kedua, fungsi ke luar adalah untuk menjadi alat pembeda dengan ıkeyakinan yang lain. Sepeti keyakinan umat Islam tentang Tuhan. Menurut umat ıIslam, keyakinan yang benar adalah Tuhan itu hanya satu. Berarti hal ini berbeda ıdengan keyakinan yang lain yang menyatakan bahwa Tuhan itu terbagi tiga atau lebih.ı

Selain alasan tersebut, untuk mengormati pendapat orang lain, kita tidak harus ımenyetujui pendapatnya. Atau dengan kata lain kita  bisa menghormati orang lain ıwalaupun kita tidak menyetujui pendapatnya. Karena memang tidak ada korelasi ımengikat(talazum) antara mengormati dan membenarkan. Untuk menilai benar ıtidaknya sesuatu, kita punya takaran sendiri. Begitupun untuk menghormati pendapat ıyang lain, kita punya pertimbangan sendiri. ı
ı ı
Akhir-akhir ini, para pemikir Islam Liberal lewat faham pluralisme agama-nya ımecoba mengajak  umat Islam untuk membenarkan semua perbedaan keyakinan ıdengan atas nama menghargai perbedaan keyakinan. Walupun sebenarnya mereka ıtahu bahwa di antara keyakinan-keyakinan tersebut sebenarnya terdapat sebuah ıkontradiksi, sehingga tidak mungkin untuk bisa benar secara bersamaan. ı

Jika kita pelajari, cara seperti ini  sebenarnya malah bertentangan dengan tujuan ımereka  sendiri. Karena dengan membenarkan semua keyakinan yang saling bebeda-ıbeda dan kontradiksi tersebut, hal ini malah menghilangkan perbedaan yang ada, ıkarena semua keyakinan telah mereka  leburkan menjadi satu, yaitu sama-sama  ımeyakini semuanya benar. Jika semua telah sama, lalu perbedaan apa yang harus ımereka hargai,  jika perbedaannya sudah tidak ada? Selain  keyakinan  tersebut lebur ımenjadi satu, keyakinan tersebut menjadi sama-sama tidak jelas dan kabur,  kerena ıbatasan-batasan antar keyakinan  sudah tidak jelas, dan akal siapapun tidak ada yang ımampu meyatukan sebuah kontradiksi untuk dikatakan semuanya benar secara ıbersamaan. ı

Dogma-Dogma Kontradiksi Kaum Islam Liberal

Adanya kontradiksi antar keyakinan sebenarnya telah disadari oleh para pemikir ıliberal. Oleh karena itu, mereka mencoba mengeluarkan dogma-dogma tentang ıkebenaran, sebagai upaya pelarian mereka dari ketidak sanggupan mereka untuk  ımenjelaskan secara rasional bahwa kontradiksi tersebut bisa benar secara bersamaan. ıTetapi, di sisi lain mereka tetap ingin membenarkan semua keyakinan tersebut. Lagi- ılagi agar meraka dikatakan menghargai perbedaan. Dogma-dogma yang sekarang ıtelah mereka keluarkan adalah: ı
ı ı
Partama, mereka mengatakan  kebenaran adalah relatif, karena mereka tak ingin ısetiap umat beragama memastikan bahwa keyakinan agamanya  adalah yang paling ıbenar dan yang lain salah,  sehingga jika  mereka menemukan kontradiksi di antara ıdua keyakinan maka mereka tidak mau memberi keputusan, walau untuk diri sendiri, ımana yang benar dan mana yang salah diantara dua keyakinan tersebut, karena ıkeduanya telah sama-sama direlatifkan. ı

Kedua, mereka mengatakan soal kebenaran yang tahu hanya Tuhan, tujuan mereka ıtak jauh beda dengan tujuan mereka ketika mereka mengeluarkan dogma kebenaran ıadalah relatif, yaitu umat beragama, menurut mereka, sama-sama tidak punya hak ıuntuk memastikan mana yang paling benar dan mana yang salah. ı

Ketiga , ada sorang pemikir Islam Liberal meyatakan bahwa kebenaran itu banyak, ıkarena menurutnya setiap kebenaran punya takaran sendiri-sendiri. Jika kita pelajari, ıdogma  baru mereka ini keluar  tak lain halnya adalah juga sebagai upaya pelarian ımereka dari relitas kontradiksi yang ada di antara berbagai keyakinan dengan cara ımembenarkan semua keyakinan tersebut. Selain itu, agar kita umat Islam melupakan  ırealitas keberagaman kondisi kitab suci umat beragama, yang dalam hal ini sebagai ısumber  takaran kebenaran setiap keyakinan, ada yang sudah tidak asli lagi, ada yang ıhasil olah tangan manusia  dan  juga memang ada yang masih asli dari Rasul. Selain ıitu, agar kita juga tidak mebeda-bedakan antara keyakinan hasil spekulasi filosofis  ımanusia dengan keyakinan yang bersumber dari wahyu Tuhan.ı

Pernyataan kebenaran adalah banyak, karena setiap kebenaran mempunyai ıtakaran sendiri-sendiri adalah penyataan problematik. Apakah hanya dengan ımempunyai takaran maka setiap orang yang mendakwakan kebenaran maka akan ıdengan sendirinya diterima sebagai sebuah kebenaran?. dan tidak berusaha berfikir ıkritis bahwa kemungkinan malah takarannya yang salah atau bermasalah, yang ıakhirnya berkonsekuensi pada hasil takarnnya yang ikut menjadi salah. Oleh karena ıitu, kesalahan pada takaran malah lebih berbahaya karena bisa membawa pada ıkesalahan yang lebih luas. Jika kaum Islam Liberal tetap memaksakan diri untuk ımembenarkan setiap takaran kebenaran, tanpa mau berpikir kritis, maka anak kecil ıyang belum sekolah dan mengaji dan berkata tentang kebenaran maka mau-tak mau ıharus mereka benarkan. Karena anak kecilpun punya takaran sendiri?! ı
Wallahu a'lam bisshowab.ı

ıOleh: Zarnuzi Ghufron, mahasiswa tingkat IV Fakultas Syari'ah wa Qonun ıı   Univesitas al-Ahgaff, Hadramaut, Yaman.ı
ı ı