http://www.english.hadhramaut.info Refleksi Idul Fitri Bagi Umat Islam [The Source: indo.hadhramaut.info - 21/9/2010]
Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal pada ýpenanggalan Hijriyah. Umat islam merasa bahagia dan senang tak terkira karena telah ýmenyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh.ý

Secara ý terminologi Idul Fitri mengandung dua arti. Ada yang mengartikan Idul Fitri, ýkembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum ýsiang hari seperti biasa. Ada pula yang mengartikan Idul Fitri, kembali kepada ýkesucian atau kembali ke asal kejadian, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang ýmanusia dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun.ý

Dari dua arti di atas penulis lebih condong kepada makna yang ke dua yaitu "kembali ýkepada kesucian". Pegangan ini bukan tanpa alasan. Mengingat, pada setiap hari raya ýIdul Fitri selalu terdengar dan terucap "min al-a'idiin wa al-fa'izin". Sebenarnya, apa ýmaksud dari ucapan tersebut?ý

Survei membuktikan, dalam ucapan min al-a'idin wa al-fa'izin terdapat beberapa ýkalimat yang dibuang. Secara lughah kita tidak dapat mengerti tanpa ada tafsir ýsebelumnya. Tafsir tersebut adalah "Ila al-fitroti min al-a'idin wa anil hawa wa as-ýsyayatin min al-fa'izin," artinya : kita kembali kepada fitroh (suci) dan kita telah ýmenang dari hawa nafsu dan setan. Dalam artian, setelah satu bulan umat islam ýmenyucikan diri jasmani-rohani (mengekang hawa nafsu) dengan harapan agar dosa-ýdosanya diampuni oleh Allah SWT, maka pada hari Idul Fitri mereka telah suci lahir ýdan batin. Inilah maksud dari ucapan min al-a'idin wa al-fa'izin.ý

Tiga Sikap

Idul Fitri merupakan simbol kemenangan lahir dan batin umat muslim. Setelah satu ýbulan lamanya berpuasa, menahan lapar, dahaga dan mengekang hawa nafsu. ýSetidaknya ada tiga sikap ketika merayakan Idul Fitri. ý

Tiga sikap yang harus kita punyai, yaitu: petama, Rasa penuh harap kepada Allah ýSWT (Raja’). Berharap agar diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Janji Allah SWT ýakan ampunan itu sebagai buah dari "kerja keras" sebulan lamanya menahan hawa ýnafsu dengan berpuasa. ý

Kedua, Melakukan evaluasi diri terhadap puasa yang telah dilaksanakan. Apakah ýpuasa yang telah kita kerjakan sarat dengan makna, atau hanya sebatas puasa ýmenahan lapar dan dahaga saja, sedangkan lidah, hati, dan mata tidak bisa ditahan ýdari perbuatan ma'siat. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang artinya: ýý"Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar ýdan dahaga". ý

Ketiga, Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan ýsemangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, sebab predikat taqwa ýsepantasnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: "Hai orang yang ýberiman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah ýsekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam" (QS. Ali Imran: ýý102).ý Ketiga sikap inilah yang harus tampak sebagai bentuk hasil dari penggenblengan ýbulan suci Ramadhan.ý

Momentum Silaturrahim

Menjelang Idul Fitri tiba, arus mudik demikian deras. Banyak penduduk kota yang ýkembali ke kampung halaman, demikian juga para pekerja pulang kampung hanya ýuntuk bersilaturrahim dan berkumpul dengan keluarga.ý

Silaturahim (menyambung kasih sayang) dengan meminta maaf/melebur dosa ýmerupakan tindakan yang mulia dan dianjurkan oleh agama. Hikmah dari silaturrahim ýsendiri mempererat kembali tali persaudaraan sesama muslim dan memperkokoh ýsemangat kekeluargaan.ý

Dengan motif silaturrahim akan tersambung kembali yang selama ini putus demi ýterjalinnya keharmonisan. Yang demikian inilah yang dinamakan hakikat ýsilaturrahim. Nabi saw. Bersabda: "Tidak bersilaturrahim (namanya) orang yang ýmembalas kunjungan atau pemberian, tetapi (yang dinamakan bersilaturrahim ýadalah) yang menyambung apa yang putus" (Hadis Riwayat Bukhari).ý

Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada ýAllah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya ýdosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang ýlain. ý

Dengan demikian Idul Fitri, sesungguhnya menawarkan apa yang disebut Emha extra ýcultural and spiritual strategi untuk menerobos kemungkinan dialektika permaafan ýdalam peta perhubungan sistemik dan struktural yang ruwet dan tak terjangkau.ý
ý
Oleh: Amir Faqih al Qadafi, Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas al-Ahgaff ýYaman.ý