http://www.english.hadhramaut.info Pesantren dan Kebangkitan Ekonomi Bangsa [The Source: indo.hadhramaut.info - 25/04/2013]
Tarim – Hadhramaut Info, Pesantren adalah lembaga pendidikan otentik milik nusantara. Selain karakteristik metode pembelajarannya yang khas, pesantren juga diunggulkan dengan jenis lembaga pendidikan lain karena kemandiriannya. Itulah sebabnya, ke depannya, pesantren tak hanya diharapkan mampu menjadi pionir pendidikan nasional. Namun juga menjadi pionir dalam bidang lain, khususnya ekonomi bangsa.

Demikianlah poin utama yang kurang lebih disampaikan oleh KH. Mahfudz Syaubary, MA dalam seminar dan dialog interaktif yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman, AMI Al-Ahgaff, dan PCINU Yaman pada Rabu (17/12). Dalam acara yang dihelat di Auditorium Fak. Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, Pacet, Jawa Tengah, tersebut mengulas banyak hal terkait pemberdayaan ekonomi pesantren di hadapan kurang lebih 150 pelajar yang hadir.

Bagi Kiai Mahfudz, kamuflase yang diciptakan penjajah Belanda bahwa orang Islam yang baik adalah mereka yang hidup zuhud dan meninggalkan dunia secara totalitas harus dihapus dalam benak umat Islam. Bahkan sebaliknya, umat Islam harus bangkit menjadi umat yang mengusasi segala aspek, terlebih ekonomi.

Ada tiga orientasi, tutur Kiai Mahfudz, yang harus dimiliki pesantren, dalam rangka menuju kemandirian ekonomi. Pertama, bisnis. Poin ini tak lain adalah perpanjangan dari fitrah manusia yang membutuhkan interaksi sesama manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Kedua, Makro dan Mikro Sosial. Maksudnya, ekonomi pesantren tak hanya mampu berkontribusi dalam lingkup intren warga pesantren. Melainkan lebih dari itu, ekonomi pesantren harus mampu berkontribusi terhadap negara secara universal, melalui infaq dan zakat yang dihasilkan. Dan yang ketiga, serta yang paling utama, adalah orientasi pendidikan.

Dalam dialog interaktif, kiai yang saat ini memiliki lebih dari 800 karyawan tersebut banyak menceritakan kisah suksesnya memulai usaha ketika baru tiba di tanah air setelah menyelesaikan studinya di Ribath Sayyid Alwy al-Maliky, Makkah. Ia juga memotivasi, bahwa kesabaran dan tak pantang menyerah adalah kunci kesuksesan yang harus dimiliki insan pesantren. Acara dialog berakhir hingga pukul 23.00 KSA. [Dzul Fahmi]