Mukalla-hadhramaut.info. Banjir bandang yang disebabkan oleh hujan deras selama tiga hari di Provinsi Hadhramaut Yaman membuat provinsi tersebut lumpuh total.
Hujan kali ini boleh dibilang yang paling dahsyat dan lama sejak dasa warsa
terakhir, meski hujan tersebut terhitung biasa dan wajar untuk ukuran Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya tapi bagi Hadhramaut yang terletak di lembah di bawah gunung batu merupakan musibah besar sebab, jangankan hujan deras sampai berhari-harihujan biasa saja banjir.
Akibat banjir tersebut data terakhir menyebutkan sebanyak 36 meninggal dunia dan 21 lainnya hilang dan 1.918 unit rumah roboh di Tarim, Sah, Saum, Syibam, Khaura, dan Wadi Alqotn, dan merobohkan 35 instansi pemerintah. Selain itu banjir juga merusak 420 hektar di daerah Saum, dan 58 hektar ladang di daerah Qatn dan lainnya.
Sementara itu jumlah pengungsi yang berhasil dievakuasi dari daerah tersebut mencapai 5000 keluarga. Daerah tersebut merupakan daerah yang paling parah mengalami kerugian sebab bangunan di daerah itu terbuat dari tanah liat dan berada di dataran rendah.
Hingga berita ini ditulis tim evakuasi masih mencari para korban dan mendata jumlah kerugian materi secara keseluruhan.
Sementara itu bantuan dari dalam dan luar negeri mulai berdatangan yang diangkut oleh pesawat helikopter langsung kepada para korban di tempat evakuasi.
Untuk mengetahui berapa perincian korban banjir di masing masing daerah,
indo.hadhramaut.info mendapatkan data yang cukup akurat sebagai berikut:
Distrik Khaura, 3 meninggal, satu hilang, 9 Mobil hilang, 465 unit rumah roboh, 24
gedung sekolah dan satu kantor polisi hancur lebur.
Distrik Sah, 33 korban meninggal dunia, 38 korban hilang, 260 unit rumah roboh, 3
masjid roboh dan 3 gedung instansi pemerintah juga roboh.
Distrik Syibam, 20 unit rumah roboh total, 60 unit rumah rusak berat, dan 90 korban kerugian materi lainnya.
Distrik Qatn, 582 unit rumah roboh, 420 hektar rusak berat, 57 ladang pengairan
rusak, dan 3695 ladang penghasil madu hancur total.
Distrik Saum, 170 unit rumah roboh, 420 hektar rusak, 700 warga yang dievakuasi, dan 3000 ladang penghasil madu hancur berantakan.
Sementara itu, di Distrik Tarim yang dihuni oleh mayoritas pelajar dan mahasiswa
Indonesia dan Asia tenggara lainnya mengalami kerusakan, 335 unit rumah roboh, 2 masjid hancur total, rumah sakit runtuh dan 2000 keluarga dievakuasi, sejauh ini
tidak ada berita yang menyebutkan bahwa pelajar maupun mahasiswa di distrik tersebut dievakuasi atau termasuk dalam daftar para korban, karena tempat mereka jauh dari daerah yang rawan banjir.