Sebagaimana kegiatan rutin ba'da magrib malam Jum'at di Tarim ibu kota peradaban Islam 2010, pembacaan maulid nabi kembali menggema di segenap penjuru kota malam itu.
Besar kecil, tua muda berbondong-bondong merayapi masjid Jami' Tarim tanpa terkecuali kami para pelajar Indonesia yang berkesempatan menghadari maulid nabi pada hari itu. Mereka kompak mengenakan baju putih, warna yang paling disenangi nabi Muhammad Saw. meskipun ada satu dua yang mengenakan baju berwarna, namun hal itu tidak mengurunagi kekhusyuan hadirin mengikuti acara.
Bertindak selalu penyampai materi ceramah pada malam itu, Habib Salim asy-Syathiri yang merupakan sesepuh Tarim sekaligus pengasuh Rubath Tarim dimana keilmuannya sudah tidak terbantahkan lagi, sehingga beliau layak dilaqobi "Sulthon al-'Ulama" alias punggawanya para ulama.
Setelah membaca puji-puji shalawat atas Rasulullah, beliaupun memberikan wejangan kepada para hadirin. Tema kali ini ada seputar fadhilah bulan Dzul-Qa'dah sebagai salah satu bulan yang diharamkan Allah (Asyhurul-Hurum) sekaligus mengupas sedikit tentang tema manasik haji.
Di sela-sela penjelasannya tentang manasik haji Habib Salaim asy-Syathiri menandaskan bahwa ka'bah yang merupakan arah kiblat untuk ummat Islam seluruh dunia ketika melakukan ibadah shalat merupakan simbol persatuan ummat. Hal itu diperkuat dengan disyariatkannya manasik haji yang merupakan bentuk mukhtamar internasional dengan datangnya para tamu Allah dari segala pelosok dunia di Haramain.
Setelah wejangan keagamaan telah disampaikan, para hadirin kemudian melaksanaan shalat Isya' berjamaah dan bertindak sebagai imam Habib Ali Masyhur bin Hafidz, kakanda dari da'I dan murabbi Habib Umar bin Hafidz yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kemudian Habib Salim menutup acara maulid dengan penjelasan fikih praktis untuk masyarakat umum (AM. Saputra)