Sana'a, Menteri Minyak dan Mineral Yaman, Amir al-Aidrus telah
mengatakan bahwa Yaman berada di ambang bencana ekonomi akibat kerusuhan
politik yang sedang berlangsung dan serangan bom terhadap saluran pipa
minyak.
"Kisah sabotase terhadap pipa di Wadi Ubaida di Marib telah menghambat aliran minyak sejak pertengahan Maret dan menggerogoti kepercayaan investor di negara ini," kata al-Aidrus seperti dikutip kantor berita Yaman, Saba Sabtu kemarin.
"Beberapa perusahaan minyak negara telah mundur dan kilang di barat daya Provinsi Aden terhenti seminggu yang lalu," katanya kepada parlemen Yaman pada pertemuan mendesak dengan kabinet untuk membicarakan krisis energi.
Menteri juga mengatakan bahwa krisis politik telah menyebabkan pekerja minyak asing kabur meninggalkan Yaman, sementara pengrusakan terhadap pipa ekspor minyak utama di Marib menyebabkan kelangkaan energi, yang berakibat pada pemadaman listrik.
Memburuknya kondisi keamanan sebagai akibat dari aksi unjuk rasa telah berdampak negatif pada distribusi produk dan membuatnya sulit untuk memperbaiki pipa yang rusak.
"Para penjahat yang melakukan sabotase dan perusakan saluran pipa minyak dan gas serta saluran listrik menjadikan kondisi di sektor ini sangat memprihatinkan, katanya.
"Jika masalah terus berlanjut, pemerintah tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minimum warga. Situasi ini akan menimbulkan bencana di luar imajinasi," kata al- Aidrus.
Parlemen Yaman memutuskan untuk mengadakan rapat dengan kabinet untuk membahas krisis energi dan kekurangan gas, solar dan bensin serta pemadaman listrik.
sumber industri mengatakan produksi minyak di Yaman telah dibelah dua dalam beberapa pekan terakhir sebagai produsen telah menarik staf dan menahan output setelah ledakan pipa ekspor, yang juga menutup kilang satunya di Aden.
Menteri Perdagangan dan Industri, Hisham Sharaf, memperkirakan kerugian akibat aksi unjuk rasa yang dimulai akhir Januari lalu terhadap perekonomian negara sebesar USD 5 miliar, atau sekitar 17 persen dari anggara belanja negara tahun 2009.
produksi minyak Yaman, yang telah menurun dalam dekade terakhir, rata-rata hanya di bawah 300.000 barel dibanding tahun lalu, dengan kira-kira setengah diekspor.
Yaman adalah produsen minyak sederhana dan pengekspor minyak dengan mengandalkan hidrokarbon sebesar 70 persen dari anggaran pendapatan negara.
Mengebom pipa dan membawa minyak mentah dari Marib ke Laut Merah telah menjadi target serangan berulang-ulang dalam beberapa bulan terakhir dan seperti yang terjadi sekarang sehingga ekspor minyak terhambat bahkan macet.
Secara umum, produksi minyak dan gas di Yaman masih terhitung lancar kecuali wilayah Marib. Yaman masih memimpin dan menawarkan tender produksi minyak mentah di wilayah Masila, Hadhramaut yang aman dari seranagn para penjahat.
Sebagian besar minyak mentah di Marib hilang sebesar 130.000 barel perhari, sehingga operasional dipindah ke Aden untuk melayani pembeli kelas reguler dalam tender bulanan yang mengambil kira-kira 2-2500000 barel perbulan.
Kilang Aden minggu lalu mengeluarkan tender untuk 35.000 ton bensin untuk pengiriman Juni. sementara itu hari Sabtu kemarin, sebuah kapal tanker Cina memasok 30.000 ton bensin yang bersumber dari India di pelabuhan Aden.