Tarim, Sabtu siang (17/11) Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Yaman
kedatangan tamu istimewa. Mereka adalah rombongan Majelis Ulama
Zaitunah, Tunisia. Diantara yang hadir adalah Rektor Universitas
Zaitunah, Dr. Abdul Jalil, serta salah satu guru besar Universitas
Zaitunah, Syekh Abdul Fattah Morou. Sebelumnya, tepatnya pada Rabu
(14/11), kunjungan mereka ke Yaman dalam rangka menghadiri Multaqo Dai
Islam Internasional yang diselenggarakan Ma’had Darul Musthofa.
Syekh Abdul Fattah yang dikenal sebagai dai karismatik di Tunis didaulat menjadi pembicara di hadapan sekitar 400 hadirin yang terdiri dari mahasiswa dan para dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff. Kuliah umum dan dialog tersebut digelar di Auditorium Ahgaff Center.
Dalam pengantarnya, Abdul Fattah menegaskan pentingnya membangkitkan kembali kesadaran umat Islam untuk menghadapi realita kekinian. Peradaban Islam, katanya, mengalami degradasi secara drastis pasca runtuhnya Andalusia.
“Umat Islam kini benar-benar menjadi umat yang konsumeris,” ujar penganut madzhab Maliki itu. Hal tersebut, menurut Fattah, bisa dilihat dari tidak produktifnya umat Islam dalam segala bidang.
Untuk membangun kembali reruntuhan puing peradaban tersebut, imbuhnya, dibutuhkan kebangkitan di segala aspek ; keilmuan, ekonomi, hingga politik. Salah satu solusinya, menurutnya, dengan merefleksikan kembali spirit yang telah diusung para Imam Mujtahid masa klasik. Bagi Fattah, para sarjana muslim klasik telah sukses menjadikan dua pilar utama Islam, Al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagai leanding point dalam memecahkan problem kehidupan yang tak hanya di masa mereka hidup. Namun juga problematika masa depan yang jauh melampaui zamannya.
“Keberadaan Fikih Ifthirodhi yang tertuang dalam Turots kita adalah salah satu bukti bahwa mereka respek terhadap problematika kehidupan. Bukan hanya yang sedang terjadi, tapi juga hingga yang belum tergambarkan !” kata Abdul Fattah yang siang itu mengenakan kopyah merah dililit surban putih khas guru besar Timur Tengah.
“Spirit itulah yang telah padam dan belum pernah tumbuh kembali hingga kini” tambahnya.
Di sela – sela penyampaiannya tersebut, ia mengingatkan urgensitas keberadaan Universitas Islam di dunia sebagai pionir kebangkitan Islam. Bahkan, kejayaan yang pernah diraih umat Islam tak lepas dari peran sejumlah universitas Islam dunia yang memainkan perannya sebagai menara ilmu dan ulama.
Ada empat madrasah yang telah berperan penting dalam membangun peradaban Islam dunia ; Madrasah al-Azhar Mesir, Qarawiyn Maroko, Zaitunah Tunisia, dan Madrasah Hadramaut. Sejumlah madrasah itulah yang bisa dikatakan platform keilmuan Islam dunia. Sehingga perannya pun harus dikembalikan dalam rangka mengulang era keemasan tersebut.
“Bahkan salah satu cendikiawan Tunisia, Ibnu Kholdun adalah keturunan Hahdramaut ,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Kuliah umum dilanjutkan dengan acara dialog dan berakhir pukul 13.00.
(Dzul Fahmi)