Tarim – Hadramaut Info, Dalam rangka silaturahmi dan menjalin hubungan
erat dengan WNI di Yaman, Duta Besar Republik Indonesia untuk Yaman yang
baru, Drs. Wajid Fauzi, MPM. melaksanakan kunjungan resmi ke sejumlah
wilayah. Setelah awal Desember lalu Dubes asal Kota Solo ini
bersosialisasi dengan pelajar Indonesia di Kota Mukalla, maka sejak Rabu
hingga Jumat (24-26/12), kunjungan resmi berlanjut ke Kota Tarim dan
Seiwun.
Rombongan Dubes dan keluarga beserta beberapa staff KBRI tersebut disambut hangat oleh para santri dan mahasiswa Indonesia di Ribath Hauthoh, Darul Musthofa, Ribath Tarim dan Universitas Al-Ahgaff. Dalam acara silaturahmi yang dilangsungkan secara bergilir tersebut, Pak Dubes yang merupakan lulusan Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, memperkenalkan profilnya di hadapan para WNI. Dubes yang melanjutkan studi Master di Singapura itu juga banyak menyampaikan sejumlah target dan pelayanan yang ingin ia persembahkan kepada para WNI di Yaman.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mensejahterakan WNI di Yaman,” kata Wajid pada Selasa (25/12) di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff, Tarim. Ia juga menambahkan bahwa ia akan senantiasa terbuka dalam menerima pengaduan pelayanan dari para WNI. Karenanya, tambah Wajid, KBRI Sana’a telah membuka sejumlah pintu komunikasi. Antara lain melalui website resmi di www.kemenlu.go.id/sanaa. dan WNI call centre yang bisa dihubungi kapan saja.
Dengan demikian, Dubes asal Solo yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Dubes di Berlin, Jerman ini berharap, agar tidak ada lagi pemisah antara pemerintah dengan WNI dalam menjalin hubungan. Selain itu, segala macam problem yang terjadi di kalangan WNI di Yaman juga bisa ditanggapi secara cepat.
Acara perkenalan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog. Banyak usulan yang dilayangkan mahasiswa. Antara lain, KBRI Sana’a diminta untuk turut berusaha maksimal untuk menghapus stigma terorisme yang akhir-akhir ini selalu diidentikkan dengan pelajar Indonesia di Yaman.
“KBRI harus intens menyuarakan lewat media bahwa kami, pelajar Indonesia di Hadhramaut, adalah para santri Garuda harapan bangsa !” ujar Faqih Qadafi, mahasiswa Fakultas Syariah tingkat akhir. Selain itu, ada juga yang berusul terkait program beasiswa Kementerian Agama Republik Indonesia. Menurutnya, sudah saatnya Kemenag RI memberikan kucuran beasiswa pendidikan untuk mahasiswa Indonesia di Yaman, sebagaimana yang telah diberikan kepada mahasiswa Sudan, Mesir, dan beberapa negara Arab yang lain. (Dzul Fahmi)