Tarim- Hadhramaut Info - Pembahasan akidah adalah isu yang paling
krusial dalam wacana keagamaan umat Islam. Hal tersebut, karena akidah
adalah landasan segala amal seorang muslim. Jika akidahnya benar, maka
ia akan selamat. Pun sebaliknya, jika ideologinya sudah tercampur
pemahaman yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya,
maka keselamatannya di akhirat pun akan terancam.
Berangkat dari kesadaran urgensitas di atas, Forum Mahasiswa Madura di Yaman (Fosmaya) kembali menggelar diskusi reguler untuk senantiasa menyegarkan kajian akidah. Setelah menggelar bedah buku “Al-Insân Musayyar am Mukhoyyar” karya Syekh Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy dan “Al-Sunnahwal Bid’ah” karya Sayyid Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad. Kini FOSMAYA kembali menggelar bedah buku “Mafâhim Yajîbu An Tushahhah” karya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky al-Hasany.
Tampil sebagai Nara Sumber Khoirus Sholeh Ihsan Hamid dan ditemani oleh Muhammad Taufiq Ahaz sebagai moderator serta Khorul Al-Syafii sebagai notulen. Diskusi ini merupakan agenda rutinan Departemen Pendidikan FOSMAYA, yang dilaksanakan pada hari Senin, (29/4) di Ruangan Paralel Fakultas Syariah Wal Qonun Universitas Al Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman tepat pukul 21:00 hingga 23.50 KSA.
Kherus begitu panggilan akrab Nara Sumber, memulai sajian presentasinya dengan menyampaikan sekilas sejarah lahirnya paham yang sekarang lebih familiar dengan sebutan Wahabi-Salafi tersebut. Menurutnya faham wahabi salafi ini adalah kelompok paling kaku, linier, literalis dan denotatif di dalam Islam. Kelompok ini merupakan "virus" yang dapat melemahkan umat Islam dari dalam dengan tuduhan sesat bahkan pengkafiran terhadap kelompoklain yang tidak seirama dengan mereka.
Selanjutnya Kherus menjelaskan penjatuhan vonis kufur bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Maka dari itu, penulis buku Mafahim, Prof. Dr. Muhammad bin Alawi al-Maliky al-Hasany memiliki perhatian besar atas dampak negatif dan bahaya vonis yang serampangan tersebut. Setidaknya beliau memulai penulisan bukunya dengan bab Akidah dan Kesalahan Parameter Kekufuran dan Kesesatan. Menurut beliau, mungkin semangat untuk ber-amar ma'ruf nahi mungkar-lah yang mendasari tindakan mereka. Sayangnyamereka lupa, bahwa kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar haruslah ditempuh dengan cara yang baik dan tutur kata yang baik serta metode yang baik pula.Sebagaimana didalam Al-qur'an di sebutkan " Serulah (Manusia) kepadajalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah merekadengan cara yang baik."
Didalam bab ini, beliau mewanti-wanti segenap umat Islam untuk tidak mudah menjatuhkan vonis sesat dan kufur terhadap sesama umat Islam hanya disebabkan permasalah yang tidak prinsipil (furuiyyah).Vonis kufur yang dilakukan secara membabi buta punya potensi besar mengakibatkan umat Muslim semakin berkurang. Hal ini sangat kontradiktif dengan sikap Rasululallah Saw. dan para sahabatnya dimana kalimat tauhid menjadi harga yang tak ternilai.
Selain itu, didalam makalahnya Kherus juga mengangkat masalah masalah klasik yang masih saja dipertentangkan oleh wahabi-salafi seperti penolakan mereka terhadap majaz aqly, perdebatan seputar perbedaan status kholik dan makhluk, tawassul, tabarruk, dan lain sebagainya. Padahal semua ini jika ditelusuri dan dikaji secara baik dan benar memiliki dasar yang kuat dalam agama serta data-data yang valid dan bukti bukti yang konkrit yang cukup menunjukkan atas legalitasnya.
Memasuki sesi diskusi suasana menjadi semakin hidup danberwarna. Pertanyaan, kritikan, argumentasi hingga tarik ulur pendapat meyelimuti para diskusan.
Syaiful Arif misalnya, mahasiswa asal Sumenep Madura ini mempertanyakan sejauh mana kebenaran penisbatan pandangan-pandangan tokoh-tokohWahabi saat ini terhadap Muhammad bin Abdul Wahab. Sebab, seperti yang dilansir oleh Sayyid Muhammad Alawi di dalam Mafahim, Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri mengingkari beberapa tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Menanggapi pertanyaan ini, Muhammad Mahrus Ali memiliki pandangan yang sangat menarik. Menurut ketua umum FOSMAYA ini, sebenarnya masalah pengkafiran dan penyesatan yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab adalah satu fakta yang tidak mungkin dipungkiri. Karena hal itu tertulis secara jelas di dalam kitab-kitab Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun, ulama-ulama yang kontra dengan kelompok Wahabi memiliki metode yang berbeda didalam menyikapi permasalahan ini. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliky, menurut Mahrus, memilih untuk tindak mengungkit-ngungkit pengkafiran yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, tetapi justru berupaya mencari titik temu dengan cara menampilkan penolakan Muhammad bin Abdul Wahab terhadap tuduhan Sulaiman bin Suhaim bahwa dia telah mengkafirkan orang-orang yang melakukan tawassul. Melalui ini, nampaknya Sayyid Muhammad hendak menyatakan kepada orang-orang wahabi yang suka mengkafirkan orang yang bertawassul, “Mengapa kalian mengkafirkan orang-orang yang bertawassul sementara Muhammad bin Abdul Wahab sendiri tidak demikian?”
"Terlepas dari semua itu, kita sepakat bahwa pengkafiran dan penyesatan yang dilakukan kelompok wahabi sangatlah berbahaya. Namun, kita tidak boleh juga membalas dengan mengkafirkan mereka. Buku ini ditulis bukan untuk menyesatkan apalagi mengkafirkan mereka sebab perbedaan yang muncul seputar amaliah kita tetapi buku ini ditulis untuk membuktikan bahwa keyakinan dan amaliah kita selama ini memiliki dasar pijak yang sangat kuat dalam Islam dan untuk menunjukkan kepada klompok wahabi bahwa perbedaan pendapat antara kita dengan mereka tidak selayaknya dijadikan dasar perpecahan apalagi pengkafiran dan penyesatan." Demikianlah pungkas Muhammad Mahrus Ali yang ikut nimbrung bersama para diskusan lainnya.
Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 30 pelajar Madura dan juga beberapa tamu undangan tersebut berakhir pukul 23.50 KSA. Sesuai dengan komitmennya, Fosmaya akan terus membangkitkan kajian-kajian seputar akidah, khususnya untukmenjawab syubhat-syubhat yang sering dilancarkan kepada Ahlusunnah wal Jamaah. (Khoirus/ed-DzulFahmi)